ANALISIS NOVEL “LAUT TENGAH” KARYA BERLIANA KIMBERLY DENGAN MENGGUNAKAN TEORI FEMINISME Oleh: Nadila Jelita Dinanti (03010423006) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Novel “Laut Tengah” karya Berliana Kimberly merupakan sebuah kisah
yang menceritakan perjalanan hidup seorang wanita bernama Haia. Novel ini
menceritakan secara umum tentang keinginan Haia untuk melanjutkan pendidikannya
S2 di Korea. Impian yang dimiliki Haia ini bukan hanya sekedar untuk mencari
ilmu saja tetapi juga sebagai alasan agar dia bisa meninggalkan kehidupan yang
suram dari ancaman bibinya. Haia merupakan seorang gadis yang selalu mendapat
ketidakadilan gender dari lingkungan sekitar. Haia sering mendapat perlakuan
tidak baik dari bibinya yang memang tidak suka dengannya. Ia ingin melanjutkan
pendidikan S2 nya di Korea namun terhalang oleh biaya sehingga ia tidak bisa
untuk mewujudkan mimpinya itu. Namun, buah dari kesabaran dan juga sifat pantang
menyerahnya bisa mewujudkan keinginannya untuk belajar di Korea. Tetapi hal itu
ia dapatkan secara tidak mudah, ada suatu hal yang harus dikorbankan. Haia
harus menjadi istri kedua dari Bhumi, dikarenakan Aisa istri pertamanya sedang
di vonis penyakit yang parah. Aisa tak ingin jikalau ia tiada nanti, tidak ada
yang mengurus anak dan suaminya. Karena penyakitnya itu kemungkinan bisa
menjadikan usia Aisa tidak lama lagi sehingga ia mengkhawatirkan anak dan
suaminya itu. Ia memiliki harapan kepada Haia untuk menjadi istri dan sekaligus
ibu sambung yang baik dari anaknya. Pada akhirnya, Haia menerima tawaran untuk
menjadi istri kedua dari Bhumi dengan syarat ia bisa melanjutkan pendidikan S2
nya di Korea.
Novel ini menceritakan tentang cinta dan poligami dari Haia, ia
harus menerima bahwa dirinya di poligami oleh Bhumi untuk sebuah harapan hidup
yang penuh lika-liku. Kehidupan Haia memang tidak selalu mulus, ia selalu
dihadapkan oleh orang-orang yang memperlakukannya secara tidak adil. Impiannya
untuk melanjutkan pendidikan di Negeri Ginseng itu dianggap berlebihan,
karenanya seorang perempuan pada hasratnya akan berada di rumah dan mengurus
keluarga. Hal ini menunjukkan ketidakadilan gender atau bisa disebut feminisme
yang terjadi pada novel ini. Karena mereka mengganggap perempuan itu lemah dan
hanya bisa menggantungkan kepada laki-laki. Namun, tokoh Haia ini di ceritakan
sebagai seorang perempuan yang kuat, mandiri, dan pantang menyerah. Novel “Laut
Tengah” ini sangat mencerminkan tentang feminisme yang terjadi. Karena tokoh Haia
ini diceritakan selalu menghadapi tekanan dari lingkungan mengenai peran
seorang perempuan yang harus berjuang melawan ekspektasi kehidupan. Dalam
menggapai impiannya itu Haia dihadapkan oleh tantangan dari norma-norma sosial
yang patriarki.
Pada intinya dalam novel “Laut Tengah” karya Berliana Kimberly ini
menjelaskan sosok perempuan yang memiliki tekad kuat untuk merubah nasibnya
dengan mengejar pendidikan S2 di Korea. Ia tidak mau harga dirinya selalu di
rendahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, ia harus rela menerima dirinya
di jadikan istri kedua dari Bhumi. Hal ini sempat mengalami kontroversi yang
sangat tinggi, karena bagi Haia tawaran ini sangat memaksa dirinya untuk
menerimanya. Dan ini sangat membuktikan ketidakadilan gender seorang perempuan,
dimana perempuan disini digambarkan sebagai sosok yang lemah dan juga tidak
sepenuhnya memiliki hak bebas berpendapat. Karenanya novel ini sangat kuat
dengan teori feminisme di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar